• INSPIRASI JALANAN | Karena inspirasi tidak datang dari atas meja kerja (saja)...

PLN, Telkom, dan PSSI 0

mozuqi | 03.52 |

Tadi siang, listrik di rumah saya mati. Saat itu di rumah kebetulan tidak ada orang karena orang tua saya bekerja dan saya masih di kampus. Ketika kami sudah pulang, sekitar pukul 5 sore, ayah saya menghubungi kantor PLN untuk segera memperbaiki listrik di rumah kami karena sudah langit mulai menggelap. Matinya listrik pada hari itu bukan karena pemadaman bergilir, karena kami melihat listrik tetangga terang jaya. Pada pukul 6 sore, setelah menunggu sekitar 1 jam, petugas PLN tak kunjung tiba, ayah saya menelepon lagi. Singkatnya, petugas PLN baru datang sekitar jam 7-an malam, dan listrik baru menyala sekitar jam setengah 8 malam. Pada hari itu, ketika menunggu petugas PLN selama kurang lebih 2 jam, dengan beberapa batang lilin yang menemani kegelapan malam itu, saya sedikit berpikir tentang kualitas pelayanan PLN. Tidak hanya malam itu, mungkin sudah sangat sering saya, keluarga saya, atau pelanggan PLN lainnya merasa kecewa dengan PLN. Beberapa pengalaman buruk yang pernah dialami seperti pada suatu malam ibu saya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer, listrik tiba-tiba mati.

Selain tidak bisa menyelesaikan sesegara mungkin, ibu saya lupa ngesave hasil pekerjaannya itu, serta motherboard komputer rumah yang rusak gara-gara power supply yang tidak stabil. Kalo dihitung, kekecawaan pelanggan PLN pasti cukup banyak dan berakibat cukup fatal, seperti mungkin banyak terlihat di surat pembaca berbagai media massa. Yah, tapi mau bagaimana lagi, jika ingin menikmati listrik, ya harus ke PLN, tak ada perusahaan lain yang bisa mengakomodasi kebutuhan kita itu. Saya pun hanya bisa mengeluh, tidak bisa betindak apapun, tidak seperti teman-teman HME (Himpunan Mahasiswa Elektro) ITB yang membuat suatu pembangkit listrik terobosan (saya lupa pakai tenaga mikro hidri atau apa, hehe) untuk memberikan akses listrik di daerah pelosok yang tidak (belum) terjangkau listrik PLN. Saat ini, jika saya mengalami kekecewaan terhadap PLN, saya selalu mengingat pepatah “Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk PLN”, hehe.

Pada malam itu, saya juga mengobrol dengan ibu saya, dan ibu saya mengatakan bahwa dulu (10-15 tahun yang lalu) hal seperti ini (kekecewaan terhadap suatu perusahaan, tapi kita tidak bisa terlepas karena monopoli) pernah terjadi pada telepon rumah. Pada masa itu, telepon genggam masih belum se¬booming sekarang. Telepon rumah dan wartel masih menjadi primadona komunikasi saat itu. Untuk menentukan janji dengan teman, saya pasti menelepon dari telepon rumah saya ke telepon rumah teman saya. Kasus seperti PLN saat ini terjadi juga pada Telkom pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu dengan berkembangnya teknologi, telepon selular menjadi primadona komunikasi. Hingga saat ini telah bermunculan berbagai perusahaan penyedia layanan telepon genggam, baik di jaringan GSM maupun CDMA. Persaingan yang semakin ketat itu ternyata membuat Telkom berubah, seperti terlihat pada beberapa tahun (1-2 tahun) lalu, Telkom merubah logo perusahaan dan beberapa kebijakan strategisnya. Alhamdulillah, dengan kondisi industri telekomunikas seperti saat ini, kita jadi memiliki hak untuk protes. Ya, dengan banyaknya perusahaan saingan ini, ketika kita dikecewakan dengan salah satu perusahaan, mungkin kita akan berpindah ke perusahaan penyedia layanan telekomunikasi lain. Tentunya hal ini tidak diinginkan oleh perusahaan awal itu. Dia (perusahaan) akan terus mencoba memberikan layanan sebaik mungkin, dan bila memang terlanjur terjadi kesalahan, perusahaan akan memperbaiki kesalahan tersebut sehingga tidak akan terulang lagi.

Seperti halnya dengan perusahaan monopoli, kekecewaan berat juga terjadi pada badan non-perusahaan yang me-‘monopoli’. Tadi pagi, saya membaca koran PR hari ini (5/1/11), halaman 29, yakni tulisan berjudul “Liga Primer Indonesia 2011: Menuju Sepak Bola Mandiri dan Profesional”. Beberapa hari lalu, ketika Piala AFF Suzui Cup masih hangat dibicarakan, bisa kita lihat sendiri di semua stasiun TV (yang anehnya saya tidak lihat di TV One) banyak sekali dukungan terhadap Timnas dan sekaligus hujatan kepada PSSI, terutama untuk ketua umumnya yang merupakan seorang koruptor (yang terbukti di pengadilan). Mereka (para penikmat persepakbolaan Indonesia) mendukung Tim Nasional dengan segala daya upayanya tetapi sangat kecewa pada PSSI. Kekecewaan mereka tersebut merupakan akumulasi kekecewaan dari kurun waktu yang cukup lama. Mulai dari pengurusan kompetisi sepak bola dalam negeri yang dinilai tidak becus, program pembibitan pemain muda yang tidak terarah, kinerja panitia pelaksana (panpel) pertandingan yang kurang memuaskan, hingga pelayanan penjualan tiket pertandingan yang sangat parah, baik dari segi penerapan harga maupun sistem penjualannya. Kembali lagi ke berita yang saya baca di PR tersebut, Liga Primer Indonesia (LPI) merupakan bentuk kekecewaan mereka pada PSSI, terutama dalam mengurusi kompetisi dalam negeri seperti LSI yang merupakan kompetisi paling bergengsi dari PSSI.

LPI digagas oleh seorang pengusaha nasional, Pak Arifin Panigoro. Sistem yang diusung oleh manajemen LPI ini diklaim akan lebih baik dari LSI (Liga Super Indonesia) dan mampu mengakomodasi kebutuhan klub yang sebelumnya terabaikan oleh PSSI, seperti masalah suntikan dana APBD. Walaupun terjadi error, harapannya error tersebut hanya terjadi di awal-awal kompetisi, seperti pada tahun pertama. Selanjutnya, sistem tersebut akan stabil dan menguntungkan semua pihak.

Akhir kata, semoga dengan hadirnya LPI dalam persepakbolaan tanah air bisa membuat arogansi dan kesemena-menaan yang dilakukan oleh PSSI dan membuat kualitas persepakbolaan Indonesia semakin meningkat. Salut untuk para penggagas ide ini, dan semoga bisa menginspirasi munculnya PLS (Perusahaan Listrik Swasta). Mungkin Pak Arifin Panigoro mempunyai prinsip, “Lebih baik mendirikan LPI daripada mengutuk LSI”, hehe. V^^

0 Responses So Far:

(C)2011 by mozuqi.com. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Inspirasi Jalanan | mozuqi.com Copyright © 2010 Prozine Theme is Originally Designed by Lasantha and Simple Modified by Me Home | RSS Feed | Comment RSS