• INSPIRASI JALANAN | Karena inspirasi tidak datang dari atas meja kerja (saja)...

Mental Korupsi yang Menyebar 0

mozuqi | 11.28 |

Akhir-akhir ini saya sering melihat pemberitaan di media massa mengenai kasus korupsi, penyuapan, penggelapan uang dan sebagianya semakin marak. Mungkin tokoh utama yang paling terasa di bidang itu saat ini adalah Gayus Tambunan, selain tuduhan masalah pajak, juga tuduhan penyuapan terhadap penjaga penjara dan oknum imigrasi yang memungkinkan dia keluar penjara bahkan ke luar negeri selama masa tahanan. Selain Gayus, mungkin masih banyak tokoh-tokoh atau pejabat di negara kita tersandung kasus korupsi atau penyuapan. Kemarin sore, saya mendapatkan pengalaman yang cukup menarik melihat mental korupsi yang menyebar, ternyata tidak hanya petinggi negara atau pejabat yang bisa melakukan korupsi, saya melihat hal itu terjadi hingga pada rakyat biasa (bukan pejabat).

Pada hari itu, ban sepeda motor saya bocor akibat terkena paku. Saya dan seorang teman, Ari, yang ketika itu berada di daerah PT. Pindad, Binong, menemukan tempat tambal ban tidak terlalu cukup jauh di tempat saya menyadari kebocoran ban, masih di Jalan Gatsu. Di tempat tambal ban tersebut, saya melihat ada dua motor yang juga mengalami masalah serupa dengan bannya. Motor satu adalah milik anak remaja yang masih berseragam SMA (selanjutnya disebut si Anak SMA) dan motor dua adalah milik seorang pemuda yang sepertinya tinggal di daerah sana (selanjutnya disebut si Pemuda). Tempat tambal ban tersebut juga memiliki dua orang tukang tambal ban, selanjutnya saya sebut si Babeh dan si Emang.

Ketika saya datang, saat itu si Babeh sedang melayani (menambal) ban motor milik si Anak SMA, lalu saya dihampiri oleh si Emang yang mau menambal ban motor saya. Si Pemuda terdengar sedang melakukan tawar menawar harga ban dalam dengan si Babeh yang sambil menambal ban motor si Anak SMA. Sepertinya ban motor si Pemuda telah diperiksa sebelumnya dan ternyata ban miliknya bocor di bunglon-nya (daerah pentil) sehingga tidak bisa ditambal, harus ganti ban dalam. Si Pemuda keberatan dengan harga awal Rp 30.000,- yang ditawarkan si Babeh untuk ganti ban dalam, dan akhirnya disepakati pada harga Rp 28.000,- karena si Pemuda tidak ada pilihan lain lagi saat itu. Tak lama kemudian, ban motor milik si Anak SMA selesai ditambal. Ketika itu, si Anak SMA bertanya, "Pak, sabarahaeun?" (Pak, berapaan?), dijawab oleh si Babeh, "Ah, ka budak SMA mah 10 rebu we.." (Ah, ke anak SMA sih 10 ribu aja). Saya sedikit terkejut mendengar harga Rp 10.000,- itu untuk menambal ban, biasanya paling hanya Rp 5.000,- atau Rp 6.000,-. Tentu saja si Pemuda, yang tadi tawar menawar ban dalam pun terkejut serta sedikit senyum dan tertawa ke si Babeh setelah si Anak SMA meninggalkan tempat tambal ban.

Singkat cerita, si Babeh pun melayani si Pemuda untuk menggantikan ban dalamnya, dan setelah selesai, sesuai kesepakatan harga di awal, si Pemuda harus mengeluarkan uang sebesar Rp 28.000,-. Ketika itu saya sedang jongkok di samping si Emang yang sedang menambal ban motor saya. Dalam posisi kami (saya dan si emang) bisa terlihat jelas apa yang dibicarakan ataupun dilakukan si Babeh dan si Pemuda. Si Pemuda memberikan selembar uang Rp 50.000,- kepada si Babeh. Pada saat itu, si Babeh tampaknya berniat memberikan kembalian sebesar Rp 32.000,- dengan memberikan Rp 30.000,- terlebih dahulu ke si Pemuda dan si Babeh pergi ke warung mungkin untuk mencari receh seribuan atau dua ribuan. Ketika si Pemuda menerima uang Rp 30.000,- saya melihat kebingungan dari mukan si Pemuda tersebut.

Pemuda tersebut celingak-celinguk tanpa komentar apapun dari mulutnya dan sesekali berpapasan mata dengan saya atau si Emang yang memperhatikannya. Mungkin karena menyadari uang kembalian yang diterimanya tersebut lebih dan kami (saya dan si Emang) memperhatikan, Pemuda tersebut jongkok mendekati si Emang dan menawarkan sebatang rokok ke si Emang. Tak lama setelah itu, si Babeh datang dengan uang recehnya dan memberikan "sisa kembalian" sebesar Rp 2.000,- pada si Pemuda. Sesaat setelah si Pemuda pergi dari tempat tambal ban, si Emang sedikit berbisik pada saya, "Bisaan euy, nyogok make roko...". Mendengar komentar tersebut saya hanya bisa sedikit tertawa.

Akhirnya, ban motor saya selesai ditambal juga. Saat saya bertanya pada si Emang, "A, sabaraha?", si Emang menjawab "8 rebu jang..". Sambil memberikan uang, dalam hati saya sedikit bingung dan tertawa. Bingung karena lebih mahal daripada biasanya (5-6 ribu) dan tertawa karena mendapat pembuktian harga yang diberikan pada si Anak SMA oleh si Babeh memang lebih mahal. Ya sudah lah, yang penting saat itu saya sudah bisa mengendarai motor dengan normal untuk melanjutkan perjalanan ke kampus.

Memang, kesan yang ditunjukkan tempat tambal ban tersebut tidak bagus. Ketika pada saat pertama saya melihat tempat tambal ban tersebut saya sedikit ragu, saya tidak suka dengan tempat tambal ban tersebut karena mereka (si Emang, si Babeh, dan dua teman lain di dalamnya) tampaknya sering mabuk-mabukan, sesekali si Emang meneguk bir bint*ng yang dituangkan ke gelas ketika menambal ban sepeda motor saya. Oia, si Emang juga sering cunihin memanggil-manggil wanita yang kebetulan melewati tempat tambal ban tersebut, haha. Tapi mau bagaimana lagi, daripada harus mendorong motor lebih jauh untuk mencari tempat tambal ban lain yang tidak tahu dimana.

Yah, pada sore itu, saya melihat sekaligus tiga orang yang terlibat praktik korupsi dan penyuapan kecil-kecilan. Si Babeh yang me-mark-up harga tambal ban pada Anak SMA sebesar Rp 2.000,- (Jika harga normal untuk tambal ban adalah Rp 8.000,-), si Pemuda yang korupsi dari uang kembalian yang lebih  sebesar Rp 10.000,- dan menyuap, serta si Emang yang menerima penyuapan sebatang rokok untuk tutup mulut, haha.

Tulisan ini mungkin hanya menggambarkan sebagian kecil sikap orang Indonesia atau orang-orang yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. Masih banyak (semoga) tukang tambal lain yang selalu siap membantu 24 jam para pengendara kendaraan bermotor yang mengalami musibah yang keberadaanya menenangkan kita ketika berada di tempat sepi dan telah lelah mendorong.

0 Responses So Far:

(C)2011 by mozuqi.com. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Inspirasi Jalanan | mozuqi.com Copyright © 2010 Prozine Theme is Originally Designed by Lasantha and Simple Modified by Me Home | RSS Feed | Comment RSS